Selasa, 05 Juni 2012

tuhan yesus menopangku (2)


MATA MULAI KABUR

Tuhan memang selalu ikut campur di dalam hidupku. Saat Tante Yudit (Ibu Gembalaku di Lumajang) menawarkan rumahnya di Pasirian supaya aku tempati, tawaran itu langsung kuterima. Rumah di Pasirian yang kutempati tergolong besar dan kuno. Pekarangannya cukup luas. Tanamannya bermacam-macam. Daunnya rimbun serta terkesan angker. Pertama aku memasuki rumah ini, aku bersihkan semuanya dalam kekuatan doaku. Beberapa hamba Tuhan GBI Pasirian datang membesuk dan mendoakanku.

Sebenarnya di Bondowoso aku mempunyai rumah sendiri. Rumah itu sekarang dikuasai saudara iparku. Aku boleh menempati rumahku, asal aku bersedia meninggalkan Yesus. Aku bersumpah, aku tidak akan menjual Yesus dengan apa pun juga. Apalagi hanya mempertaruhkan dengan sebuah rumah. Dua saudara kandungku (kakak dan adik) telah meninggal lebih dahulu. Suamiku pun telah meninggal dunia karena sakit tua. Dia meninggal di rumah istri kedua. Suamiku kecantol dengan wanita lain. Akhirnya kami berpisah rumah (tidak cerai). Aku merelakan dia hidup bersama istri barunya. Sebagai wanita, kala  itu aku memang sempat sakit hati karena kesetiaanku dikhianati. Namun, aku telah menyerahkan dan mengampuninya dalam nama Tuhan Yesus.

Kembali pada kehidupanku di Pasirian. Tak terasa, sudah 6 tahun aku tinggal di Kebonan Pasirian. Apalagi yang bisa kuandalkan dalam mencukupi ekonomi sehari-hari, selain kepandaianku memasak. Tahun pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima aku masih bersemangat dalam melayani pesanan-pesanan makanan para langganan. Namun lambat laun kekuatan badanku mulai kendor termakan usia. Tenagaku mulai lemah serta mudah lelah bila usai memasak. Pandangan mataku mulai kabur. Jika berbelanja bumbu-bumbu ke pasar, aku takut tertabrak kendaraan di jalan. Aku terpaksa menitip belanja bumbu kepada tetangga apabila ada pesanan masakan.

Beberapa jemaat yang kukenal menyarankan supaya aku tidak bekerja lagi. Tetapi jika tidak bekerja, aku dapat pegang uang dari mana? Aku masih ingin memberi persembahan buat Tuhan. Aku masih ingin mempersembahkan perpuluhan buat Tuhan. Barangkali mereka kasihan melihat keadaanku yang papa renta tanpa siapa-siapa. Mereka kerapkali mengirimkan sesuatu kepadaku. Kadang mereka membelikan lauk tempe, tahu, minyak goreng, sabun, dll. Pihak gereja GBI juga memberikan bantuan sembako bulanan kepadaku. Aku sangat bersyukur sekali. Sebenarnya aku tidak ingin hidup dikasihani seperti ini. Tapi apa daya, keadaanku yang membuatku begini. Aku tak bisa membalas apa-apa atas kebaikan mereka. Aku hanya bisa mendoakan orang-orang yang telah berbuat baik kepadaku. Tuhanlah yang akan melimpahkan berkat dari usaha-usaha mereka. (Tim CMM/Mws – Bersambung) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar