MATA MULAI KABUR
Tuhan memang selalu ikut
campur di dalam hidupku. Saat Tante Yudit (Ibu Gembalaku di Lumajang) menawarkan
rumahnya di Pasirian supaya aku tempati, tawaran itu langsung kuterima. Rumah
di Pasirian yang kutempati tergolong besar dan kuno. Pekarangannya cukup luas. Tanamannya
bermacam-macam. Daunnya rimbun serta terkesan
angker.
Pertama aku memasuki
rumah ini, aku bersihkan semuanya dalam
kekuatan doaku. Beberapa hamba Tuhan GBI Pasirian datang membesuk dan mendoakanku.
Sebenarnya di Bondowoso aku mempunyai rumah
sendiri. Rumah itu sekarang dikuasai saudara iparku. Aku boleh menempati rumahku, asal aku bersedia
meninggalkan Yesus. Aku bersumpah, aku tidak akan menjual Yesus dengan apa pun
juga. Apalagi hanya mempertaruhkan dengan sebuah rumah. Dua saudara kandungku (kakak dan adik)
telah
meninggal lebih dahulu. Suamiku pun telah meninggal dunia karena sakit tua. Dia
meninggal di rumah istri kedua. Suamiku kecantol dengan wanita lain. Akhirnya kami
berpisah rumah (tidak cerai). Aku merelakan dia hidup bersama istri
barunya. Sebagai wanita, kala itu aku memang sempat sakit hati karena
kesetiaanku dikhianati. Namun, aku telah menyerahkan dan mengampuninya dalam nama Tuhan
Yesus.
Kembali pada kehidupanku
di Pasirian. Tak terasa, sudah 6 tahun aku tinggal di Kebonan Pasirian. Apalagi
yang bisa kuandalkan
dalam mencukupi ekonomi sehari-hari, selain kepandaianku memasak. Tahun pertama, kedua,
ketiga, keempat, kelima aku masih bersemangat dalam melayani pesanan-pesanan makanan
para langganan. Namun lambat laun kekuatan badanku mulai kendor termakan usia. Tenagaku
mulai lemah serta
mudah lelah bila
usai memasak. Pandangan mataku mulai kabur. Jika berbelanja bumbu-bumbu ke pasar, aku takut tertabrak kendaraan di
jalan. Aku terpaksa menitip belanja bumbu kepada tetangga apabila ada pesanan
masakan.
Beberapa jemaat yang
kukenal menyarankan supaya aku tidak bekerja lagi. Tetapi jika tidak bekerja, aku dapat pegang
uang dari mana? Aku masih ingin memberi persembahan buat Tuhan. Aku masih ingin
mempersembahkan perpuluhan buat Tuhan. Barangkali mereka kasihan melihat keadaanku yang
papa renta tanpa
siapa-siapa. Mereka kerapkali mengirimkan sesuatu kepadaku. Kadang mereka membelikan lauk tempe,
tahu, minyak goreng, sabun, dll. Pihak gereja GBI juga memberikan bantuan sembako bulanan
kepadaku. Aku
sangat bersyukur sekali. Sebenarnya aku tidak ingin hidup dikasihani seperti ini. Tapi apa daya, keadaanku
yang membuatku begini. Aku tak bisa membalas apa-apa atas kebaikan mereka. Aku hanya bisa mendoakan
orang-orang yang telah berbuat baik kepadaku. Tuhanlah yang akan melimpahkan
berkat dari usaha-usaha mereka. (Tim CMM/Mws – Bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar