Penampilannya rapi sekali. Bajunya
selalu dimasukkan. Topi veteran tak
pernah lupa dikenakannya. Meskidalam setiap melangkah dia dituntun dengan tongkat kecil, tetapi pijakan kakinya tak
pernah ragu. Setiap Jumat malam dan Minggu pagi, pria bertubuh pendek ini
senantiasa hadir di gereja GBI Pasirian untuk beribadah. Bagi jemaat tentu
sudah mengenal dengan sosok kakek bersahaja ini. Dia adalah Pak Rokim (70), penyandang
tuna netra, jemaat senior GBI Pasirian.
Mengawali wawancara dengan Tim CMM, kakek yang
pendengarannya masih tajam ini mengaku bahwa dia menjadi anak Tuhan tidak dari
kecil. Ada suatu peristiwa rohani yang membuatnya mengenal Tuhan. Ketika
musibah fatal yang membuat matanya menjadi buta (umur 30), dia merasa dikuatkan oleh tim doa yang kala itu selalu berkunjung ke
rumahnya. Percikan air gamping (kapur) yang panas mengenai kedua matanya.
Sebelum kedua matanya menjadi parah, dia masih bisa melanjutkan pekerjaannya
sebagai tukang labur rumah, tukang angkut air, kuli bangunan, dll. Lama
kelamaan mata itu pun buta total.
Kepedihan hidupnya tidak berhenti
sampai di sini. Mengetahui kondisi Pak Rokim yang tidak bisa diharapkan lagi,
si istri meninggalkannya begitu saja. Ke-4 anaknya yang masih kecil-kecil
sempat terlantar. Tetapi Tuhan itu baik.
Tuhan menyatukan keluarga Pak Rokim bersama anak-anaknhya.Sekarang semua
anaknya telah berkeluarga. Kekuatan doa dan penghiburan yang terus dilakukan
oleh tim doa GBIinilah yang menguatkannya untuk tetap bertahan hidup sampai sekarang. “Aku pasrahkan semuanya kepada Tuhan. Ini
adalah bagian dari perjalanan hidupku. Doaku yang tak pernah henti adalah agar semua anakku kembali ikut Tuhan.
Karena dulu ketika mereka masih kecil, mereka ikut Tuhan, “papar kakek yang
pernah mengenyam pendidikan SR (SD) pada jaman Jepang ini.
Diceritakan pula, dia bertobat
menjadi anak Tuhan ketika pendetanya Bapak Tuhu. Dia hafal dengan 3 nama pendeta yang pernah
memimpin GBI, yaitu : Pdt. Tuhu, Pdt. Zakeus, dan Pdt. Fifie Layantara
(sekarang). Perhatian pihak gereja dan jemaat terhadap dia dan keluarganya
sangat luar biasa. “Saat aku pulang pergi ke gereja mereka membayar becakku,
menuntunku, memberiku baju, dll. Aku tidak bisa membalasnya kecuali dengan
ucapan terima kasih serta mendoakan supaya Tuhan memberkati usaha mereka,” ungkap sang kakek yang hafal dengan jadwal ibadah gereja.
Sementara itu Suwarni (40), anak
perempuan ke-3 Pak Rokim, menuturkan bahwa ayahnya tidak pernah rewel dalam hal apa pun di rumah. “Soal makan, biasanya saya yang mengambilkan. Takutnya nanti tidak
tahu tempatnya. Kalau mandi, biasanya Bapak pergi sendiri ke sungai dekat rumah. Dia sudah
tahu jalannya.Dia memilih sendiri pakaiannya bila mau ke gereja. Dia cocoknya sama saya saja. Saya tak pernah
menuntut apa-apa darinya. Malah saya ingin terus merawatnya,” ujar ibu berputri satu yang setiap sore berjualan
nasi jagung dan nasi pecel di pos Ledok dekat rumahnya.
Pak Rokim yang tuna netra memang
sudah tua. Tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakan dengan kondisinya yang
seperti ini. Meskipun kedua matanya buta
dan harus meraba-raba, dia tetap setiapergike gereja untuk mencari Tuhan. “Aku boleh kehilangan penglihatanku. Namun aku tidak boleh kehilangan Yesus. Sekali Yesus, tetap Yesus !” tegas kakek asli Pasirian ini pada
akhir wawancarannya dengan Tim CMM. (Tim CMM/Mws/bambangmws.blogspot.com)

Luar biasa semangat mbah rokim dalam mengikut Tuhan!!!!!!
BalasHapus