Rabu, 06 Juni 2012

sekali yesus, tetap yesus


Penampilannya rapi sekali. Bajunya selalu dimasukkan. Topi veteran  tak pernah lupa dikenakannya. Meskidalam setiap melangkah dia dituntun dengan tongkat kecil, tetapi pijakan kakinya tak pernah ragu. Setiap Jumat malam dan Minggu pagi, pria bertubuh pendek ini senantiasa hadir di gereja GBI Pasirian untuk beribadah. Bagi jemaat tentu sudah mengenal dengan sosok kakek bersahaja ini. Dia adalah Pak Rokim (70), penyandang tuna netra, jemaat senior GBI Pasirian.

Mengawali wawancara dengan Tim CMM, kakek yang pendengarannya masih tajam ini mengaku bahwa dia menjadi anak Tuhan tidak dari kecil. Ada suatu peristiwa rohani yang membuatnya mengenal Tuhan. Ketika musibah fatal yang membuat matanya menjadi buta (umur 30), dia merasa dikuatkan oleh  tim doa yang kala itu selalu berkunjung ke rumahnya. Percikan air gamping (kapur) yang panas mengenai kedua matanya. Sebelum kedua matanya menjadi parah, dia masih bisa melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang labur rumah, tukang angkut air, kuli bangunan, dll. Lama kelamaan mata itu pun buta total.

Kepedihan hidupnya tidak berhenti sampai di sini. Mengetahui kondisi Pak Rokim yang tidak bisa diharapkan lagi, si istri meninggalkannya begitu saja. Ke-4 anaknya yang masih kecil-kecil sempat  terlantar. Tetapi Tuhan itu baik. Tuhan menyatukan keluarga Pak Rokim bersama anak-anaknhya.Sekarang semua anaknya telah berkeluarga. Kekuatan doa dan penghiburan yang terus dilakukan oleh tim doa GBIinilah yang menguatkannya untuk tetap bertahan hidup sampai sekarang.  “Aku pasrahkan semuanya kepada Tuhan. Ini adalah bagian dari perjalanan hidupku. Doaku yang tak pernah henti adalah agar semua anakku kembali ikut Tuhan. Karena dulu ketika mereka masih kecil, mereka ikut Tuhan, “papar kakek yang pernah mengenyam pendidikan SR (SD) pada jaman Jepang ini.

Diceritakan pula, dia bertobat menjadi anak Tuhan ketika pendetanya Bapak Tuhu. Dia hafal dengan 3 nama pendeta yang pernah memimpin GBI, yaitu : Pdt. Tuhu, Pdt. Zakeus, dan Pdt. Fifie Layantara (sekarang). Perhatian pihak gereja dan jemaat terhadap dia dan keluarganya sangat luar biasa. Saat aku pulang pergi ke gereja mereka  membayar becakku, menuntunku, memberiku baju, dll. Aku tidak bisa membalasnya kecuali dengan ucapan terima kasih serta mendoakan supaya Tuhan memberkati usaha mereka,” ungkap sang kakek yang hafal dengan jadwal ibadah  gereja.

Sementara itu Suwarni (40), anak perempuan ke-3 Pak Rokim, menuturkan bahwa ayahnya tidak pernah rewel dalam hal apa pun di rumah. “Soal makan, biasanya  saya yang mengambilkan. Takutnya nanti tidak tahu tempatnya. Kalau mandi,  biasanya Bapak  pergi sendiri ke sungai dekat rumah. Dia sudah tahu jalannya.Dia memilih sendiri pakaiannya bila mau ke gereja. Dia  cocoknya sama saya saja. Saya tak pernah menuntut apa-apa darinya. Malah saya ingin terus merawatnya,” ujar ibu berputri satu yang setiap sore berjualan nasi jagung dan nasi pecel di pos Ledok dekat rumahnya.

Pak Rokim yang tuna netra memang sudah tua. Tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakan dengan kondisinya yang seperti ini.  Meskipun kedua matanya buta dan harus meraba-raba, dia tetap setiapergike gereja untuk mencari Tuhan. “Aku boleh kehilangan penglihatanku. Namun aku tidak boleh kehilangan Yesus. Sekali Yesus, tetap Yesus !” tegas kakek asli Pasirian ini pada akhir wawancarannya dengan Tim CMM. (Tim CMM/Mws/bambangmws.blogspot.com)

1 komentar: