Dingin udara malam terasa menusuk
tulang. Namun lelaki tua berjaket lusuh itu tetap bersandar waspada di pintu
gerbang pastori GBI Pasirian. Malam itu (jam 12) Tim CMM memang sengaja menemuinya untuk berwawancara tentang kisah hidupnya.
Pak tua yang jalannya sudah tidak setegap masa mudanya tersebut akhirnya bersedia untuk berbagi cerita.
Siapakah kakek tua itu ? Dia adalah Wagiyanto (70). Lelaki kelahiran Grobogan
(Jateng) yang lebih akrab disapa Pak Wagiyo
adalah penjaga malam gedung GBI Pasirian dan sekolah Pelangi Kasih.
“Sudah 12 tahun saya menjadi penjaga malam di GBI Pasirian. Selama itu
pula saya tidak pernah tidur malam di rumah. Biarpun selalu begadang di luar
dengan udara dingin, Tuhan senantiasa menjaga kesehatan saya, sehingga saya
tetap sehat-sehat saja sampai sekarang.Inilah yang menguatkan saya untuk tetap
melayani pekerjaan Tuhan,” tutur Pak Wagiyo mengawali perbincangannya.
Setelah pensiun dari dinas
kemiliteran AD (pasukan arhanud/arteleri
pertahanan udara) dengan pangkat terakhir kopral (1988), pria yang pernah
ditugaskan menumpas DI/TII Kartosuwiryo Jawa Barat (1960) ini tidak mau menganggur. Dia pernah menggarap
lahan pertanian milik Kodim Lumajang yang terletak di belakang Koramil Pasirian.
Menjadi satpam di PT Adi Karya Pasirian
juga pernah dilakoninya. Terakhir adalah menjadi penjaga malam di GBI Pasirian
sampai sekarang.
Sebagai anak Tuhan, pria yang pernah digodok
pendidikan militer di Makasar (1959) ini mempunyai pengalaman iman yang tidak
pernah dia lupakan. Sewaktu ditugaskan di Timor-Timur (1976), regu yang
dipimpinnya pernah diserang musuh (fretelin) secara mendadak. Semua anak
buahnya kocar-kacir melarikan diri. Sementara dia sebagai komandan regu
ditinggalkan sendirian di atas gunung oleh anak buahnya. “Kalau tidak ada campur tangan Tuhan waktu itu, barangkali saya sudah
tinggal nama. Karena saya terkepung oleh gerombolan yang sangat menguasai
medan. Sungguh, ketika saya turun gunung untuk menyelamatkan diri, seperti ada tangan yang menuntun ke arah mana saya
harus berjalan. Saya pun bisa kembali ke markas dengan selamat,’’tuturnya berapi-api menguatkan kesaksian imannya.
Di usianya yang menjelang senja, kini
Pak Wagiyo hidup damai bersama seorang istrinya. Sementara kedua anaknya sudah berumah
tangga sendiri. Menempati sebuah rumah sederhana di Perum GPP Pasirian, tidak
banyak kegiatan yang dilakukan oleh kakek bercucu tiga ini selain menjadi
penjaga malam sambil menikmati gaji pensiunnya . “Di usia tua ini saya ingin menyucikan hati. Saya ingin selalu dekat
dengan Tuhan Yesus dalam segala hal, dan tetap ingin setia melayani-Nya
walaupun hanya sebagai penjaga malam gereja,”
pesan singkatnya mengakhiri wawancara. (Tim CMM/Mws)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar