Selasa, 05 Juni 2012

kopral wagiyo setia melayani


Dingin udara malam terasa menusuk tulang. Namun lelaki tua berjaket lusuh itu tetap bersandar waspada di pintu gerbang pastori GBI Pasirian. Malam itu (jam 12) Tim CMM memang sengaja menemuinya  untuk berwawancara tentang kisah hidupnya. Pak tua yang jalannya sudah tidak setegap masa mudanya tersebut  akhirnya bersedia untuk berbagi cerita. Siapakah kakek tua itu ? Dia adalah Wagiyanto (70). Lelaki kelahiran Grobogan (Jateng)  yang lebih akrab disapa Pak Wagiyo adalah penjaga malam gedung GBI Pasirian dan sekolah Pelangi Kasih.

“Sudah 12 tahun saya menjadi penjaga malam di GBI Pasirian. Selama itu pula saya tidak pernah tidur malam di rumah. Biarpun selalu begadang di luar dengan udara dingin, Tuhan senantiasa menjaga kesehatan saya, sehingga saya tetap sehat-sehat saja sampai sekarang.Inilah yang menguatkan saya untuk tetap melayani pekerjaan Tuhan,” tutur Pak Wagiyo mengawali perbincangannya.

Setelah pensiun dari dinas kemiliteran AD (pasukan arhanud/arteleri pertahanan udara) dengan pangkat terakhir kopral (1988), pria yang pernah ditugaskan menumpas DI/TII Kartosuwiryo Jawa Barat (1960)  ini tidak mau menganggur. Dia pernah menggarap lahan pertanian milik Kodim Lumajang yang terletak di belakang Koramil Pasirian. Menjadi satpam di  PT Adi Karya Pasirian juga pernah dilakoninya. Terakhir adalah menjadi penjaga malam di GBI Pasirian sampai sekarang.

Sebagai anak Tuhan, pria yang pernah digodok pendidikan militer di Makasar (1959) ini mempunyai pengalaman iman yang tidak pernah dia lupakan. Sewaktu ditugaskan di Timor-Timur (1976), regu yang dipimpinnya pernah diserang musuh (fretelin) secara mendadak. Semua anak buahnya kocar-kacir melarikan diri. Sementara dia sebagai komandan regu ditinggalkan sendirian di atas gunung oleh anak buahnya. “Kalau tidak ada campur tangan Tuhan waktu itu, barangkali saya sudah tinggal nama. Karena saya terkepung oleh gerombolan yang sangat menguasai medan. Sungguh, ketika saya turun gunung untuk menyelamatkan diri, seperti  ada tangan yang menuntun ke arah mana saya harus berjalan. Saya pun bisa kembali ke markas dengan selamat,’’tuturnya berapi-api menguatkan kesaksian imannya.

Di usianya yang menjelang senja, kini Pak Wagiyo hidup damai bersama seorang istrinya. Sementara kedua anaknya sudah berumah tangga sendiri. Menempati sebuah rumah sederhana di Perum GPP Pasirian, tidak banyak kegiatan yang dilakukan oleh kakek bercucu tiga ini selain menjadi penjaga malam sambil menikmati gaji pensiunnya . “Di usia tua ini saya ingin menyucikan hati. Saya ingin selalu dekat dengan Tuhan Yesus dalam segala hal, dan tetap ingin setia melayani-Nya walaupun hanya sebagai penjaga malam gereja,” pesan singkatnya mengakhiri wawancara. (Tim CMM/Mws)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar