Senin, 04 Juni 2012

ditangkap tuhan


Ramah, sopan, dan sederhana. Itulah kesan yang selalu kita temukan bila berjumpa dengan tamu kita Minggu ini. Pria kelahiran Banyuwangi (1976) dengan nama lengkap Suprapto tsb, adalah salah satu sosok pelayan di GBI Pasirian. Selain sebagai tenaga full timer gereja, dia juga terlibat dalam pelayanan pendidikan di SDLB Kr. Pelangi Kasih. Sebagai full timer gereja, tugasnya adalah pengantar jemput jemaat, pemain musik, dan anggota tim doa. Sedangkan di SDLB, pria lulusan D3 Akademi Misi Kristen Jakarta ini,  sebagai terapis perilaku anak-anak berkebutuhan khusus.

Membuka wawancaranya dengan Tim CMM, pria penyabar tsb mengaku bahwa kedatangannya di Pasirian diawali lewatperkenalannya dengan Om Ishak di Jakarta.”Selesai kuliah tahun 2006, saya mendapat tugas pelayanan keluar daerah. Waktu itu Om Ishak langsung menawari  saya ke Pasirian,” tuturnya. Di Pasirian, dia terjun dalam pelayanan misi, yakni menjangkau jiwa-jiwa di desa dengan pendekatan pengobatan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dll. Menurutnya, bentukpelayanan inisarat dengan tantangan. Terutama sekali tantangan dari sekelompok orang yang melihatnya dari sisi lain.

Pengalaman rohani yang pernah dialaminya adalah ketika dia ditangkap Tuhan supaya terlibat dalam pelayanan. Selepas sekolah STM dia lebih tertarik dalam dunia kerja bidang otomotif. Tapi Tuhan sepertinya kurang sepaham dengan keinginannya tsb, karena saat di SMPdia ingin terjun dalam dunia pelayanan “Suatu hari saya jatuh sakit. Perut saya membesar dan hampir saja saya mati. Di tengah keputusasaan, saya bernazar kepada-Nya. Tuhan, kalau engkau masih memberi aku hidup, aku akan menyerahkan hidupku untuk melayani-Mu,” tandas Pak Prapto menyakinkan kesaksiannya.

Banyak berkat rohani dan jasmani yang dia terima selama terlibat dalam pelayanan Tuhan. Kedamaian rumah tangga, perlindungan Tuhan dari sakit penyakit, kelancaran ekonomi, dll. selalu Tuhan limpahkan. Meski kadang ekonominya sempat ketar-ketir, tapi pertolongan-Nya datang tepat pada waktunya. “Sempat juga saya suatu hari akan menjadi TKI di Arab Saudi sebagai sopir. Namun, saya batalkan. Saya sadar bahwa saya punya Tuhan. Bukankah dulu saya pernah menyerahkan hidup ini hanya untuk Tuhan,” cerita Pak Prapto mengenang.

Tentang suka dukanya melayani anak-anak di SDLB, banyak sukanya. Semakin lama, semakin dia mengasihi anak didiknya. Tuhan seperti mempercayakan anak-anak untuk bisa dilayaninya dengan  sungguh-sungguh. Kalau soal murid‘ngompol atau beol’ sudah biasa baginya. Menurutnya, dalam menerapi setiap murid, dia senantiasa mengandalkan Tuhan. Dia menyakini akan kekuatan doa yang memberi kesempurnaan terapinya.

Tinggal di Perum GPP,kini Pak Prapto hidup damai bersama keluarganya.Bersama istri dan ketiga anaknya, pria yang kesukaannya ikan bakar Manado ini hidup dalam satu iman Kristiani. Pak Prapto merupakan sosok teladan rohani bagi keluarga yang dicintainya.(Tim CMM/Mws)

1 komentar:

  1. luar biasa. semakin menguatkan saya untuk selalu mengiring tuhan.

    BalasHapus