Ramah, sopan, dan sederhana. Itulah kesan yang
selalu kita temukan bila berjumpa dengan tamu kita Minggu ini. Pria kelahiran Banyuwangi (1976)
dengan nama lengkap Suprapto tsb, adalah salah satu sosok pelayan di GBI Pasirian. Selain
sebagai tenaga full timer gereja, dia juga terlibat dalam pelayanan pendidikan
di SDLB Kr. Pelangi Kasih. Sebagai full timer gereja, tugasnya adalah pengantar jemput jemaat, pemain musik,
dan anggota tim doa. Sedangkan di SDLB, pria lulusan D3 Akademi Misi Kristen
Jakarta ini, sebagai terapis perilaku anak-anak berkebutuhan
khusus.
Membuka wawancaranya dengan Tim CMM,
pria penyabar tsb
mengaku bahwa kedatangannya di Pasirian diawali lewatperkenalannya dengan Om
Ishak di Jakarta.”Selesai kuliah tahun 2006, saya mendapat tugas pelayanan keluar daerah. Waktu itu Om
Ishak langsung menawari saya ke
Pasirian,” tuturnya. Di Pasirian, dia terjun dalam pelayanan misi, yakni
menjangkau jiwa-jiwa di desa dengan pendekatan pengobatan, pemberdayaan
ekonomi, pendidikan, dll. Menurutnya, bentukpelayanan inisarat dengan tantangan.
Terutama sekali tantangan dari sekelompok orang yang melihatnya dari sisi lain.
Pengalaman rohani yang pernah
dialaminya adalah ketika dia ditangkap Tuhan supaya terlibat dalam pelayanan. Selepas sekolah STM
dia lebih tertarik dalam dunia kerja bidang otomotif. Tapi Tuhan sepertinya kurang
sepaham dengan keinginannya tsb, karena saat di SMPdia ingin terjun dalam dunia
pelayanan “Suatu hari saya jatuh sakit. Perut saya membesar dan hampir saja
saya mati. Di tengah keputusasaan, saya bernazar kepada-Nya. Tuhan, kalau engkau
masih memberi aku hidup, aku akan menyerahkan hidupku untuk melayani-Mu,”
tandas Pak Prapto menyakinkan kesaksiannya.
Banyak berkat rohani dan jasmani yang
dia terima selama terlibat dalam pelayanan Tuhan. Kedamaian rumah tangga,
perlindungan Tuhan dari sakit penyakit, kelancaran ekonomi, dll. selalu Tuhan limpahkan. Meski kadang ekonominya sempat ketar-ketir, tapi pertolongan-Nya
datang tepat pada waktunya.
“Sempat juga saya suatu hari akan menjadi TKI di Arab Saudi sebagai sopir. Namun,
saya batalkan. Saya sadar bahwa saya punya Tuhan. Bukankah dulu saya pernah
menyerahkan hidup ini hanya untuk Tuhan,” cerita Pak Prapto mengenang.
Tentang suka dukanya melayani
anak-anak di SDLB, banyak sukanya. Semakin lama, semakin dia mengasihi anak didiknya.
Tuhan seperti mempercayakan anak-anak untuk bisa dilayaninya dengan sungguh-sungguh. Kalau soal murid‘ngompol atau beol’ sudah biasa baginya.
Menurutnya, dalam menerapi setiap murid, dia senantiasa mengandalkan Tuhan. Dia menyakini akan
kekuatan doa yang memberi kesempurnaan terapinya.
Tinggal di Perum GPP,kini Pak Prapto hidup
damai bersama keluarganya.Bersama istri dan ketiga anaknya, pria yang kesukaannya ikan
bakar Manado ini hidup dalam satu iman Kristiani. Pak Prapto merupakan sosok
teladan rohani bagi keluarga yang dicintainya.(Tim CMM/Mws)

luar biasa. semakin menguatkan saya untuk selalu mengiring tuhan.
BalasHapus