Senin, 04 Juni 2012

berserah penuh kepada tuhan


Santun dan lembut. Itulah kesan yang selalu terpancar dari wajah wanita yang berparas ayu keibuan ini. Bagi warga jemaat GBI Pasirian tentu sudah banyak mengenal dengan ibu berdarah Manado tersebut. Pelayanannnya di gereja sebagai whorship leader dan singer sungguh tidak bisa diragukan lagi. Vokal dan ekspresinya sangat mantap ketika tampil di mimbar. Hayo, siapa lagi kalau bukan Ibu Lidya Waworuntu (38). Sosok wanita yang akrab disapa Ibu Lidya ini mau berbagi kisah pelayanannya  buat  kita.

“Sudah 7 tahun saya melayani Tuhan di Pasirian. Sebelumnya, saya pelayanan selama 4 tahun di gereja Betani, Kediri. Sejak SMP saya telah menjadi pelayan gereja di tempat kelahiran, Manado, Sulawesi Utara. Selepas SMA, saya melanjutkan ke Sekolah Alkitab Manado sampai semester 2,” tutur ibu berkacamata ini mengawali perbincangannya dengan Tim CMM.

Di Pasirian, Ibu Lidya tidak sendiri. Bersama suami, Bpk. Immanuel Sutjiono, dia juga terjun pelayanan di bidang pendidikan. Keduanya  sebagai guru SD Pelangi Kasih Pasirian. Awalnya, dia tidak menyangka akan menjadi guru. Sejak di bangku SMP sebenarnya dia sangat berkerinduan untuk pelayanan gereja. Tetapi rupanya Tuhan masih belum mengijinkan kerinduannya itu. Tuhan masih menginginkannya agar melayani di bidang pendidikan. Menurutnya, apapun rencana  Tuhan, dia akan melayaninya sepenuh hati.

Selama 7 tahun pelayanan di Pasirian banyak berkat Tuhan yang telah dirasakannya. Berkat kesehatan, kedamaian hati, serta berkat-berkat lain yang membuatnya tak pernah kekurangan. Kehidupan kerohaniannya bersama keluarga juga kian matang. Sehabis mengajar Ibu Lidya melibatkan diri dalam aktivitas gereja. Di antaranya : ikut kebaktian komsel, ibadah minggu, doa malam,  pertemuan PW, latihan persiapan singer atau pun leader, dll. “Selama pelayanan di Pasirian, saya sungguh diberkati dengan teladan kedisiplinan rohani Ibu Gembala. Hal itulah yang yang membuat saya semakin dekat dengan Tuhan,” ujar ibu yang suka masakan rawon ini.

Adapun pengalaman kerohaniannya yang tak pernah terlupakan adalah peristiwa ketika dia melahirkan anak pertamanya di kapal laut. Dalam perjalanan pulang dari Gorontalo ke Jawa (Jepara) bersama seorang saudaranya, dia dalam keadaan hamil tua. Di tengah samudra yang luas itulah anak pertamanya lahir. Ketika kapal berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, dia bersama bayinya  diboyong awak kapal ke rumah sakit pelabuhan. Sementara sudaranya disuruh pulang dulu ke Jepara untuk memberi informasi pada keluarga. Waktu itu (1997) belum ada hp. Bisa dibayangkan, betapa nelongsonya ketika melahirkan tanpa didampingi suami atau sanak saudara. Di tengah kesendirian itulah, Ibu Lidya melihat secara roh, Tuhan Yesus berdiri di sampingnya, dan membelainya. Air mata haru pun mengalir deras membasahi pipinya. Dia merasakan ada hadirat Allah memenuhi ruangan kecil itu. Perasaan cemas dan sedih pun berubah suka cita, karena dia percaya bahwaTuhan Yesus menjaga dan memberkati kelahiran bayinya.

Menempati sebuah rumah di Kebonan Pasirian, Ibu Lidya hidup damai bersama keluarga. Dari pernikahannya dengan Pak Immanuel (1996), dia dikaruniai 2 orang anak. Anak pertama, laki-laki : Charis Christian (SMP /kelas 3) Jepara, dan anak kedua, putri : Thirza Ivana (SD Pelangi Kasih /kelas 1). Dalam mendidik buah hatinya, ibu yang mempunyai talenta suara merdu ini senantiasa menekankan kepada kedua anaknyauntuk takut akan Tuhan. Oleh karena itu, dia selalu mengarahkan anak-anaknya untuk aktif dalam kegiatan gereja. “Berserah penuh kepada Tuhan. Di tangan Tuhan ada rencana besar dan indah. Saya percaya, kelak Tuhan akan menjawab kerinduan saya selama ini, yakni pelayanan sepenuhnya di gereja,” ungkap Ibu Lidya menguatkan motivasi kerohaniannya untuk tetap setia melayani pekerjaan Tuhan.(Tim CMM/Mws)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar