Santun dan lembut. Itulah
kesan yang selalu terpancar dari wajah wanita yang berparas ayu keibuan ini.
Bagi warga jemaat GBI Pasirian tentu sudah banyak mengenal dengan ibu berdarah
Manado tersebut. Pelayanannnya di gereja sebagai whorship leader dan singer
sungguh tidak bisa diragukan lagi. Vokal dan ekspresinya sangat mantap ketika tampil
di mimbar. Hayo, siapa lagi kalau bukan Ibu
Lidya Waworuntu (38). Sosok wanita yang akrab disapa Ibu Lidya ini mau berbagi kisah
pelayanannya buat kita.
“Sudah 7 tahun saya
melayani Tuhan di Pasirian. Sebelumnya, saya pelayanan selama 4 tahun di gereja
Betani, Kediri. Sejak SMP saya telah
menjadi pelayan gereja di tempat kelahiran, Manado, Sulawesi Utara. Selepas SMA, saya melanjutkan
ke Sekolah Alkitab Manado sampai semester 2,” tutur ibu berkacamata ini mengawali perbincangannya
dengan Tim CMM.
Di Pasirian, Ibu Lidya tidak sendiri.
Bersama suami, Bpk. Immanuel Sutjiono, dia juga terjun pelayanan di bidang
pendidikan. Keduanya sebagai guru SD
Pelangi Kasih Pasirian. Awalnya, dia tidak menyangka akan menjadi guru. Sejak
di bangku SMP sebenarnya dia sangat berkerinduan untuk pelayanan gereja. Tetapi rupanya Tuhan
masih belum mengijinkan kerinduannya itu. Tuhan masih menginginkannya agar melayani di bidang pendidikan. Menurutnya,
apapun rencana Tuhan, dia akan melayaninya
sepenuh hati.
Selama 7 tahun pelayanan di
Pasirian banyak berkat Tuhan yang telah dirasakannya. Berkat kesehatan, kedamaian
hati, serta berkat-berkat lain yang membuatnya tak pernah kekurangan. Kehidupan
kerohaniannya bersama keluarga juga kian matang. Sehabis mengajar Ibu Lidya
melibatkan diri dalam aktivitas gereja. Di antaranya : ikut kebaktian komsel, ibadah minggu,
doa malam, pertemuan PW, latihan
persiapan singer atau pun leader, dll. “Selama pelayanan di Pasirian, saya
sungguh diberkati dengan teladan kedisiplinan rohani Ibu Gembala. Hal itulah
yang yang membuat saya semakin dekat dengan Tuhan,” ujar ibu yang suka masakan
rawon ini.
Adapun pengalaman
kerohaniannya yang tak pernah terlupakan adalah peristiwa ketika dia melahirkan anak pertamanya
di kapal laut. Dalam perjalanan pulang dari Gorontalo ke Jawa (Jepara) bersama
seorang saudaranya, dia dalam keadaan hamil tua. Di tengah samudra yang luas itulah
anak pertamanya lahir. Ketika kapal berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya,
dia bersama bayinya diboyong awak kapal
ke rumah sakit pelabuhan. Sementara sudaranya disuruh pulang dulu ke Jepara untuk memberi
informasi pada keluarga. Waktu itu (1997) belum ada hp. Bisa dibayangkan, betapa nelongsonya ketika melahirkan tanpa
didampingi suami atau sanak saudara. Di tengah kesendirian itulah, Ibu Lidya
melihat secara roh, Tuhan Yesus berdiri di sampingnya, dan membelainya. Air
mata haru pun mengalir deras membasahi pipinya. Dia merasakan ada hadirat Allah
memenuhi ruangan kecil itu. Perasaan cemas dan sedih pun berubah suka
cita, karena
dia percaya bahwaTuhan Yesus menjaga dan memberkati kelahiran bayinya.
Menempati sebuah rumah di
Kebonan Pasirian, Ibu Lidya hidup damai bersama keluarga. Dari pernikahannya
dengan Pak Immanuel (1996), dia dikaruniai 2 orang anak. Anak pertama,
laki-laki : Charis Christian (SMP /kelas 3) Jepara, dan anak kedua, putri :
Thirza Ivana (SD Pelangi Kasih /kelas 1). Dalam mendidik buah hatinya, ibu yang
mempunyai talenta suara merdu ini senantiasa menekankan kepada kedua anaknyauntuk
takut akan Tuhan. Oleh karena itu, dia selalu mengarahkan anak-anaknya untuk
aktif dalam kegiatan gereja. “Berserah penuh kepada Tuhan. Di tangan Tuhan ada
rencana besar dan indah. Saya percaya, kelak Tuhan akan menjawab kerinduan saya selama ini, yakni
pelayanan sepenuhnya di gereja,” ungkap Ibu Lidya menguatkan motivasi kerohaniannya untuk tetap setia
melayani pekerjaan Tuhan.(Tim CMM/Mws)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar