PANDAI MEMASAK AYAM
Rambutnya sudah memutih
seperti kapas. Giginya ompong. Jalannya tertatih-tatih. Tetapi wanita tua itu tetap tegar dalam menapaki kesendirian di hari tua-tuanya. Menempati rumah kuno, dia hidup sebatang kara.
Tanpa siapa-siapa. Siapa sebenarnya Mbah Lastri? Ada apa dengan nenek tua renta yang bernama lengkap
Sulastri itu? Berikut, kesaksian rohani Mbah Lastri yang berhasil dirangkum
oleh Tim/CMM. Selamat
membaca.
Aku lahir di Bondowoso, 17 Agustus 1923. Tanggal
dan bulannya bertepatan dengan hari Proklamasi RepubIik Indonesia. Sedangkan tahun
kelahiranku sama dengan Ibu Tien Soeharto (alhm). Usiaku kini 89 tahun. Berarti, pada 17 Agustus nanti umurku menginjak angka 90 tahun.
Ah, ternyata aku benar-benar sudah tua. Pantas semua orang menyapaku dengan kata nenek atau mbah. Tidak
ada seorang pun yang memanggilku tante, bibi atau mami.
Pada usiaku yang lanjut ini
sebenarnya aku ingin hidup bersama anak dan cucuku. Tetapi apa boleh buat, segala
harapanku tak mungkin terwujud. Anak tunggalku, Bambang Yermia, bekerja sebagai hamba Tuhan (Pendeta) di
Kalimantan Tengah. Jarang, bahkan hampir tidak pernah pulang untuk menyambangiku. Aku terpaksa
memendam rasa kangenku ketika kusadari, bahwa sebagai pendeta mungkin dia disibukkan oleh pelayanannya.
Dahulu, entah tahun berapa,
aku pernah diajak anak dan menantuku tinggal di Kalimantan. Tiga bulan bersama
mereka, aku mendadak diselimuti rasa tidak kerasan. Aku ingin segera pulang. Akhirnya aku diantar oleh anakku pulang ke Jawa, meski dia tak tega
melihatku harus hidup sendiri. Setiba di Senduro Lumajang, aku memulai lagi dengan
kehidupan yang lama. Sendiri di rumah tanpa siapa-siapa, kecuali Tuhan Yesus yang
menguatkanku secara rohani. Termasuk mencari nafkah pun, kulakukan sendiri tanpa ada yang membantu.
Untuk menyambung biaya hidup, aku hanya
mengandalkan ketrampilanku, memasak. Mengolah menu makanan untuk melayani pesanan. Resep makanan yang aku kuasai, yaitu : membuat nasi
kuning, ayam bakar, ayam cocoh, ayam kecap, ayam pedas, dan sambal
goreng. Tuhan
memang baik. Setiap hari ada saja yang memesan makanan kepadaku. Aku juga beternak ayam. Hal
ini kumaksudkan, apabila ada pemesanan masakan, aku tidak repot-repot membeli
ayam di pasar. (Tim CMM/Mws –
Bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar