Rabu, 06 Juni 2012

ada rencana tuhan


 Postur badannya tidak terlalu tinggi, namun  langkahnya  mantap dan pasti. Senyum ramahnya senantiasa dibagikan kepada setiap orang yang ditemui. Orangnya supel dalam pergaulan. Siapakah gerangan orang ini? Dia adalah Hari Prasetyanto, yang lebih diakrab disapa Pak Hari.

Pria kelahiran Kediri (1973) ini merupakan salah satu tenaga pengajar SDLB Pelangi Kasih Pasirian. Di sekolah, Pak Hari bertugas menerapi anak-anak berkebutuhan khusus. “Pada mulanya saya tidak mengerti tentang pijat refleksi dan akupuntur (tusuk jarum). Saya bisa pijat refleksi secara otodidak (belajar sendiri). Sedangkan ilmu akupuntur, saya dapatkandari Prof. Sutandyo (Surabaya) yang didatangkan Om Ishak ke Pasirian. Dengan ilmuitu saya menerapi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah,” ujar sarjana STIE Malang Kucewara waktu ditanya asal-usul keahlian terapi yang dikuasainya.

Sebelum Tuhan memanggilnya ke Pasirian, pria berputra satu ini pernah menekuni beberapa pekerjaan di Malang. Dia pernah bekerja sebagai sales sebuah perusahaan, berjualan bunga, dan berjualan ikan segar keliling. Semua pekerjaan itu dilakoninya dengan penuh ketabahan hati. Kini Pak Hari terpanggil untuk melayani Tuhan sebagai tenaga pengajar bagian fisio terapi di SDLB Kristen Pelangi Kasih.

Selain sebagai terapis, dia juga salah satu tenaga relawan (cadangan) antar jemput murid SD Pelangi Kasih dan warga jemaat GBI Pasirian. “Untuk urusan antar jemput, saya harus bangun dan berangkat jam 5 pagi. Kalau terlambat bangun, anak-anak bisa terlambat sekolah, dan jemaat bisa terlambat ke gereja,” tutur pria yang sejak SMA  mahir mengemudikan mobil  ini memberikan alasan.

Di rumah Perum Nguter, Pak Hari tinggal bersama putra semata wayang dan ibunya. Anaknya, Miko (Agus Setyowidjatmiko), kini duduk di bangku kelas 2 SD Kr. Pelangi Kasih.Sementara istrinya sudah 6 tahun ini  mengadu nasib di negeri orang sebagai TKW. Menurutnya, pendidikan anak adalah hal utama yang harus diperhatikan. Meskipun disibukkan setumpuk pelayanan, perannya sebagai single parent tetap diutamakan. “Sepulang sekolah, Miko saya suruh untuk istirahat. Habis istirahat, saya antarkan les pelajaran. Kadang jika tidak ada les, ya terpaksa saya ajak untuk ikut terapi sore di sekolah. Hari Minggu dia harus sekolah minggu,” ujar pria yang kesukaannya pisang goreng dan minum kopi ini menjelaskan pendidikan anaknya selama tanpa istri.

“Keterampilan pijak refleksi,  akupuntur, dan driver (sopir) yang saya miliki merupakan anugerah Tuhan. Karenanya, akan saya pakai untuk melayani pekerjaan Tuhan. Dari Ampelgading Malang, Tuhan mengirim saya ke Pasirian. Saya yakin, Tuhan mempunyai rencana terindah buat saya sekeluarga,” ungkap Pak Hari saat ditanya dorongan rohani yang menguatkannya untuk selalu melayani pekerjaan Tuhan di Pasirian. (Tim CMM/Mws)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar