Postur badannya tidak terlalu tinggi, namun langkahnya
mantap dan pasti. Senyum ramahnya senantiasa dibagikan kepada setiap
orang yang ditemui. Orangnya supel dalam pergaulan. Siapakah gerangan orang ini? Dia adalah Hari Prasetyanto,
yang lebih diakrab disapa Pak Hari.
Pria kelahiran Kediri (1973) ini merupakan
salah satu tenaga pengajar SDLB Pelangi Kasih Pasirian. Di sekolah, Pak Hari
bertugas menerapi anak-anak berkebutuhan khusus. “Pada mulanya saya tidak mengerti tentang pijat refleksi dan akupuntur
(tusuk jarum). Saya bisa pijat
refleksi secara otodidak (belajar sendiri). Sedangkan ilmu akupuntur, saya
dapatkandari Prof. Sutandyo (Surabaya) yang
didatangkan Om Ishak ke Pasirian. Dengan ilmuitu saya menerapi anak-anak
berkebutuhan khusus di sekolah,” ujar sarjana STIE Malang Kucewara waktu ditanya asal-usul keahlian
terapi yang dikuasainya.
Sebelum Tuhan memanggilnya ke
Pasirian, pria berputra satu ini pernah menekuni beberapa pekerjaan di Malang. Dia
pernah bekerja sebagai sales sebuah perusahaan, berjualan bunga, dan berjualan ikan
segar keliling. Semua pekerjaan itu dilakoninya dengan penuh ketabahan hati. Kini
Pak Hari terpanggil untuk melayani Tuhan sebagai tenaga pengajar bagian fisio
terapi di SDLB Kristen Pelangi Kasih.
Selain sebagai terapis, dia juga
salah satu tenaga relawan (cadangan) antar jemput murid SD Pelangi Kasih dan
warga jemaat GBI Pasirian. “Untuk urusan
antar jemput, saya harus bangun dan berangkat jam 5 pagi. Kalau terlambat
bangun, anak-anak bisa terlambat sekolah, dan jemaat bisa terlambat ke gereja,”
tutur pria yang sejak SMA mahir
mengemudikan
mobil ini memberikan alasan.
Di rumah Perum Nguter, Pak Hari
tinggal bersama putra semata wayang dan ibunya. Anaknya, Miko (Agus
Setyowidjatmiko), kini duduk di bangku kelas 2 SD Kr. Pelangi Kasih.Sementara
istrinya sudah 6 tahun ini mengadu nasib
di negeri orang sebagai TKW. Menurutnya, pendidikan anak adalah hal utama yang
harus diperhatikan. Meskipun disibukkan setumpuk pelayanan, perannya sebagai single parent tetap diutamakan. “Sepulang sekolah, Miko saya suruh untuk
istirahat. Habis istirahat, saya antarkan les pelajaran. Kadang jika tidak ada
les, ya terpaksa saya ajak untuk ikut terapi sore di sekolah. Hari Minggu dia harus
sekolah minggu,” ujar pria yang kesukaannya pisang goreng dan minum kopi
ini menjelaskan pendidikan anaknya selama tanpa istri.
“Keterampilan pijak refleksi,
akupuntur, dan driver (sopir) yang saya miliki merupakan
anugerah Tuhan. Karenanya, akan saya pakai untuk melayani pekerjaan Tuhan. Dari
Ampelgading Malang, Tuhan mengirim saya ke Pasirian. Saya yakin, Tuhan mempunyai
rencana terindah buat saya sekeluarga,” ungkap Pak Hari saat ditanya
dorongan rohani yang menguatkannya untuk selalu melayani pekerjaan Tuhan di
Pasirian. (Tim CMM/Mws)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar